Monday, March 4, 2013

Bus Pariwisata Jogja

         Seiring perkembangan waktu, dewasa ini berwisata sudah tidak berada di tempat sekunder apalagi tersier dalam daftar kebutuhan sehari hari kita. Urusan pekerjaan yang menyita hampir 75% dari seluruh waktu kita dalam sehari di akui atau tidak akan menimbulkan kelelahan/ kejenuhan pikiran yang bisa berimbas pula pada penurunan produktifitas kerja, it means … menurun pula kualitas produksi yang di hasilkan.

        Nah!!! berangkat dari hal ini, kebutuhan untuk me refresh fikiran sehingga tidak timbul kejenuhan yang tidak diinginkan sangatlah di sarankan, salah satunya adalah berwisata. Meng explore hal hal baru di luar tempat kerja akan sangat membantu memulihkan stamina dan memunculkan kembali ide ide segar demi kemajuan perusahaan anda. Yogyakarta, kota dengan destinasi wisata yang sangat beragam, dari pantai, gunung, obyek wisata sejarah dan masih banyak lagi tersedia di Kota Pelajar Yogyakarta. Tidak cukup 1, 2 atau 3 hari untuk melahap obyek wisata yang ada di Kota Yogyakarta dan sekitarnya dari ujung ke ujung.

           Apabila anda datang berkunjung ke Yogyakarta dengan rombongan kecil, maka akan sangat mudah apabila anda membawa kendaraan pribadi. Namun jangan khawatir apabila anda datang ke Yogyakarta dengan kereta api, bus atau pesawat terbang misalnya. Ada tersedia banyak moda transportasi yang bisa anda pilih, mulai dari becak, andong, motor ojek, Transjogja hingga mobil sewa dengan harga yang kompetitif *baca : bisa di tawar : ) 

          Namun apabila anda datang ke Yogyakarta dalam rombongan besar, jangan pula khawatir, kami PO Sargede sudah mempersiapkan armada bus pariwisata dengan harga yang bersahabat. Mulai dari armada Microbus dengan kapasitas kursi maksimal 30, medium bus dengan kapasitas kursi maksimal 35, hingga bigbus dengan kapasitas kursi 40, 42, 46, 48, 50 ( kanan kiri 2 2 ) dan kapasitas kursi 54, 59 ( kanan kiri 2 3 ) yang tentu akan sangat flexible sesuai dengan jumlah rombongan anda. 




Berikut daftar harga sewa bus kami ( pengambilan dari Kota Jogja )
No
Tujuan
Microbus <30 p="">
Medium bus 30-35
Bigbus >35
1
Transfer in / out



2
City Tour



3
City Tour + Dinner



4
City Tour + Kaliurang/ Parangtritis



5
City Tour + Borobudur



6
Magelang + Kopeng



7
Semarang/ Tawangmangu



8
Pantai di Wonosari



9
Kebumen-Gombong



10
Semarang-Demak-Kudus



11
Demak-Kudus-Muria



13
Pacitan/ Cilacap/ Purbalingga/ Jepara




Overland per hari



14
Malang tidak bermalam
3 hari

15
Malang 1 malam
4 hari
16
Bandung tidak bermalam
3 hari
17
Bandung 1 malam
4 hari
18
Jakarta tidak bermalam
3,5 hari
19
Jakarta 1 malam
4,5 hari
20
Bali 1 malam
5 hari
21
Bali 2 malam
5 hari
22
Bromo tidak bermalam
3 hari
23
Bromo 1 malam
4 hari

Untuk keterangan lebih lanjut silahkan menghubungi 0812 296 8247 atau pin BB 51AAF08E ( Budiyono ). Selamat ber wisata. Salam

Monday, January 28, 2013

Lawang Sewu

Selamat pagi,

Bagi yang belum tahu obyek wisata Lawang Sewu di seputaran Tugu Muda Kota Semarang Jawa Tengah, gedung yang di bangun pada sekitar tahun 1904 ( pada belum lahir kan?, sama saya juga belum ) ini tadinya di fungsikan sebagai de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api Swasta ( awas lidah kelipet waktu mengucapkannya ). Ini ada beberapa gambar tampak luarnya, yang di bangun oleh arsitek Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam, kalau mau lebih detil lihat dalemannya, ya silahkan datang sendiri ke sana, OKE?


Di bawah lorong, pintu masuk yang sebelah kanan, adalah toilet, anda tahu kan kegunaan toilet, tapi ini bukan sembarang toilet, di mana anda akan langsung merasa berada di dimensi lain dunia, yaitu Benua Eropa, silahkan buktikan.


Tampak sangat megah ..... Iya apa iya??


Tidak membuktikan apa apa, hanya sang Photographer yang kurang profesional ...  hiks
Lawang Sewu = Pintu Seribu, yang sebenarnya adalah jendela jendela yang besar, gaya khas arsitektur Eropah ( pakai H biar mantab ).


Tugu Muda ...... tepat di depan gerbang Lawang Sewu
Bangunan di sebelah kanan gambar adalah .......... ( silahkan jawab di koment ), yang menjawab dengan benar akan di beri hadiah oleh sang penyelenggara ....


Jangan parkir di sini you know .... ini adalah Jl. Pandanaran ... yang terkenal dengan oleh oleh Bandeng presto apabila anda datang berkunjung ke Kota Semarang, 5 menit jalan kaki dari Lawang Sewu, cocok bagi anda yang ingin memperbesar betis.

Wednesday, January 16, 2013

Telanjang di Pantai Kuta

          Brrrrrrrrrr ............................ kalau lihat judulnya pasti langsung pada melotot, hayoloooo
Padahal saya cuman mau posting beberapa gambar ketika saya ada di Pantai Kuta Bali, bukan Lombok lho ya, kebetulan belum kesampaian nyambangin Pantai Kuta di Lombok sana. Oke selamat menikmati



Nunggu sunset beberapa puluh menit lagi

Selamat datang

Tetep belum tenggelam itu matahari

Yang mandi gak keliatan : )

Tetep gak kelihatan ya? hmmmm


Nah, ini dia yang di tunggu tunggu ....
Baiklah, kalau anda ingin melihat sendiri bule bule pada sunbathing, silahkan datang sendiri ke Pantai Kuta Pulau Bali sana, tau kan how to get there? kalau belum tahu, silahkan kumpulkan teman teman, hubungi kantor saya, atau langsung telepon ke 08122968247 atau pin BB 51AAF08E Salam

Sunday, January 13, 2013

Sunset & Sunrise

          Hiyahhhhhhhh .......... berasa sudah berlumut ini blog, gegara lama tidak saya sambangin, alias jarang di update. Saya sapa dulu pembaca di blog ini ... selamat pagi/ siang/ malam buat bapak/ ibu/ paman/ bibi/ kakak/ adik/ teman yang masih sudi meluangkan waktu buat sekedar baca ini blog. Saya berharap sekali bahwa blog ini tidak sekedar di baca, tapi bisa juga menjadi satu inspirasi buat pembaca semua untuk terutama seperti hobi saya travelling, untuk menjelajah nusantara ( satu saat harus dan akan bisa ). Seperti beberapa bulan lalu, keinginan saya untuk mengunjungi Bromo, berhubung pekerjaan saya yang berhubungan dengan per Piknik an, maka beberapa hari yang lalu, saya dapat kesempatan pergi ke Bromo, tanpa biaya alias gratis, di beri uang makan, di beri bonus, di beri gaji pula + pengalaman menegangkan naik ke Penanjakan II ( tempat melihat sunrise ) dan kawah Gunung Bromo dengan lautan pasirnya. Plus juga pengalaman menegangkan menuruni bukit ber jurang kanan kiri dalam suasana ngantuk dan lapar ( karena memang kami turun sekitar jam 09.30 wib. Bukan telat atau apa, tapi karena peserta terlalu asyik meng explor Gunung Bromo sehingga lupa waktu, kita sebagai pihak travel harus koar koar ke sana kemari memanggil peserta yang tersebar. 
Ambil peserta di sini nih ...
          Perjalanan di mulai sekitar pukul 14.00 wib. Oh iya, peserta kita kali ini adalah Guru, Karyawan dan keluarga SD Ponjong Gunung Kidul, sehingga kami pilih rute terdekat yaitu Wonogiri - Ponjong - Ponorogo - Madiun - Caruban yang kemudian di lanjutkan setelah makan malam dengan rute Nganjuk - Kertosono - Mojokerto - Bangil - Pasuruan - Probolinggo. Tiba di tempat istirahat, yaitu di satu buah rumah makan di Probolinggo sekitar tengah malam, kami kemudian menunggu kendaraan yang akan membawa kami ke atas Gunung Bromo sambil melepas lelah dan minum kopi. Sekitar jam 02.00 wib dinihari, 2 kendaraan elf tiba dan siap mengantar kami ke Penanjakan, rombongan yang ber 20 orang di bagi 2, dannnnnn petualangan pun di mulai.
Rumah makan tempat istirahat & makan pagi
          Kendaraan membelah jalanan di tengah malam buta, kondisi jalan yang semula landai berangsur menanjak, dan makin menanjak, hawa dingin pun mulai terasa, sebagian peserta bisa tertidur ( kok bisa??? ) ah barangkali karena lelah setelah perjalanan panjang tadi siang. Tapi bagi saya sayang sekali kalau perjalanan ini di lewatkan dengan tidur, maka melototlah saya. Aspal yang mulus segera di gantikan dengan medan menanjak dan terjal serta berbatu begitu kita sudah memasuki gerbang pembayaran tiket masuk, selama total kurang lebih 2 jam dari Probolinggo kami tergoncang goncang di dalam kendaraan, suasana tidak tampak menyeramkan, karena tertutup malam gelap gulita, kecauali deru kendaraan yang terdengar kami tidak melihat adanya jurang di samping kanan kiri ( keadaan segera berubah ketika hari sudah terang ) karena medan yang tadi malam kita lewati ternyata penuh dengan onak dan duri eh maaf salah, penuh dengan tebing dan jurang yang dalam di kanan kiri jalan. Habreuw .....
          Akhirnya sampai di Penanjakan II, dalam dingin dinihari, medan sudah penuh dengan lalu lalang kendaraan dan orang yang akan menyaksikan sunrise pagi itu, hampir sampai ketika kami harus turun karena jalan crowded, jalanan macet ( tidak hanya di kota yang bisa macet ) di puncak gunung pun bisa macet. kami teruskan dengan jalan kaki kurang lebih 50 an meter menanjak ... ada yang ngosh ngosh an, ada yang biasa saja, termasuk saya biasa saja, biasa ngosh maksudnya he he. Mentari sudah mulai menunjukkan jati dirinya di ufuk timur, sudah banyak yang pasang tripod lengkap dengan kameranya untuk mengabadikan peristiwa alam ini, detik, menit berlalu ..... sang Matahari pun mulai nampak kemerahan di timur sana semakin lama semakin cerah, hingga, tak terasa pagi sudah menjelang ..... sudah habis 1 roll kalau pakai film kita meng abadikan suasana. tapi berhubung pakai digital ya gak habis habis, palingan yang habis baterai nya, he he.

Trus apa hubungannya judul sama isi? katanya judulnya sunset, mana sunsetnya? barangkali itu sempat terlintas di benak pemirsa .... saya jawab, sunset nya ada di bagian lain blog ini.... he he sekian, salam.

Sebagian peserta
Sunrise



Sunrise

Hantunya nongol juga he he he

Sunday, November 25, 2012

Djuminten oh Djuminten

Lagi lagi dari grup BBM saya dapat cerita humor ini, dan sudah saya edit di sana sini, agar bisa di nikmati oleh seluruh Bangsa Indonesia ... he he, kalau ada kesamaan nama dan tempat kejadian perkara mohon maaf, ini hanya bercanda.

Pagi pagi sekali, Paidi dengan semangad 45 naik sepeda motor mencari rumah Djuminten, kenalan barunya di facebook. Merasa tersesat, Paidi kemudian membuka akun facebook dan mengirim pesan lewat inbox ke akun facebook Djuminten.
Paidi,                          "Halo sayang Djum .... Aku sudah sampai daerahmu nih, masuk gang yang mana ya?"
Djuminten,                  "Yang ada gapuranya, trus sampeyan lurus kira kira 25 meter ada rumah tingkat rumah mewah, warna biru, mobilnya banyak ..."
Paidi,                          "Siap ... aku sudah sampai situ nih, rumahmu ini Djum?"
Djuminten,                  "Bukan mas, sampeyan belok kanan kira kira 10 meter ada lapangan badminton ...lha sebelah lapangan itu ..."
Paidi,                          "Rumahmu itu Djum?"
Djuminten,                  "Itu rumahnya tukang jahit mas ...lurus saja, nanti setelah jembatan ada rumah dengan tulisan ISI ULANG PULSA .. lha itu .."
Paidi,                          "Pasti itu rumahmu kan???"
Djuminten,                  "Itu namanya counter mas, he he, sampeyan belok kanan saja, nanti ketemu kuburan, lha depan kuburan itu ..."
Paidi ( mulai marah ),   "Rumahmu Djum?"
Djuminten,                   "Itu gerbang kuburan masssss, sampeyan jangan masuk, sampeyan belok kiri saja  sampai ada peternakan ayam yang besar ..."
Paidi ( betul betul marah ),"Arrgggghhhh .... itu rumahmu?"
Djuminten,                   "Aku bukan ayam massss, itu masih lurus, nanti ketemu hutan, itu ..."
Paidi,                           "ITU RUMAHMU DJUM???"
Djuminten,                   "Aku bukan monyet masssssss ....sampeyan lewat hutan lurussss, nanti ketemu  masjid, nah sebelahan sama masjid itu .."
Paidi ( emosi ),             "KALAU SEKALI INI NGOMONG BUKAN RUMAHMU, TAK SANTET  KAMU DJUM!!!!"
Djuminten,                   "Xixixixixi ... iya itu rumahku mas, udah ketemu belum?"
Paidi ( lega ),               "Iya, aku sudah di depan rumahmu, asem kamu sayang Djum, bikin aku capek saja,  awas kalau ketemu tak cubitin kamu."
Djuminten,                   "Ya udah, masuk saja, ada simbok kok,"
Paidi,                           "Loh, kok malah simbok yang suruh nemuin aku? lha kamu kemana Djum?"
Djuminten,                   "Aku..... aku .....anu mas ...
.
.
.
aku udah lama di Hongkong jadi TKW mas,"

Paidi is crying on the floor .... garuk garuk aspallll .... Noooooooooooooo

SEKIAN



Friday, November 23, 2012

Menyentuh kabut di kaki Gunung Ciremai

      Beberapa hari yang lalu, tepatnya Hari Sabtu, 10 Nopember 2012, saya bersama rombongan menghadiri pernikahan saudara sepupu dari pihak istri saya di Majalengka Jawa Barat. Informasi pertama dari pihak keluarga bahwa kemungkinan bus yang kami sewa tidak bisa sampai ke lokasi karena memang berada di dataran tinggi dengan medan yang tidak memungkinkan bus besar lewat. Pada hari H, dengan menggunakan jasa Bus Pariwisata Sargede, sekitar pukul 07.00 wib di mulailah perjalanan menuju ke Majalengka Jawa Barat. Seperti biasa, peserta ibu ibu pastilah yang paling heboh dalam mempersiapkan segalanya, mulai dari dandanan, barang bawaan hingga persiapan detil lainnya, termasuk PPPK dan kantong kresek yang di persiapkan apabila ada peserta yang terpaksa harus muntah he he. Seperti biasa di awal perjalanan, semua peserta tampak berwajah ceria, penuh canda, tuan rumah dan mempelai yang ikut rombongan bus juga nampak sumringah, maklum mau mempersunting gadis Majalengka.

Suasana di dalam bus
          Istirahat pertama selain mengisi bahan bakar untuk bus, juga membuang bahan bakar bagi penumpang alias ke toilet, dan membeli beberapa makanan kecil untuk bahan bakar perut di minimarket yang ada di seputaran pom di daerah Gombong. Cuss ..... setelah selesai kendaraan kembali membelah jalur selatan Jawa. Istirahat kedua, Sholat Dhuhur dan Ashar kembali bus berhenti di daerah Bumiayu, sholat berjamaah dan istirahat sebentar sembari antri menggunakan jasa toilet yang ada di lingkup masjid, merokok bagi perokok yang sudah tersiksa ( mulut terasa pahit katanya, he he ) selama berjam jam di dalam bus, yang memang tidak di lengkapi smoking area. Selesai istirahat, perjalanan pun di lanjutkan kembali. Lunch box time : )
         Sekitar jam 15.00 bus sudah merayap di atas jalan tol Cirebon. Lumayan lengang, tapi begitu melihat tarif yang harus di bayar .... beughhhhh Rp 21.500 untuk satu ruas jalur tol, mungkin karena sesuai dengan kondisi dan situasi jalan tol nya. Tapi semua terbayar dengan dua kata ... arus lancar .... Penumpang sudah terlihat kuyu, semrawut, banyak gincu yang mulai pudar wkwkwkwk, minyak wangi yang berubah aroma, kaki yang mulai menggelembung karena darah menumpuk di sana.

Exit tol

Exit tol Cirebon menjadi pertanda bahwa dengan estimasi sekitar 1 jam lagi kami akan segera sampai di daerah tujuan Majalengka. Wajah kembali sumringah, sisir sudah mulai di siapkan, mengatur dandanan yang acakadut. Tiba tiba saya tertegun oleh satu pemandangan di luar sana .... warung Empal Gentong .... oooohhhhhhh .... ini Cirebon men .... tapi tidak mampir karena itu tidak masuk dalam itenenary perjalanan dan jelas bukan prioritas sama sekali. Empal gentong pun berlalu. Hiks hiks.
         Sekitar jam 17.00 tibalah kami di Balaidesa Singawada, Rajagaluh, Majalengka ( maaf kalau salah, karena waktu itu tidak sempat mencatat lengkap alamatnya, tapi menurut informasi calon mempelai, itulah nama tempat kami transit bus ). Segera kami di sambut dengan 2 kendaraan berupa truk dengan bak terbuka, karena memang tempat tujuan akhir kami tidak bisa di capai dengan bus. Masih dengan muka berseri seri kami serombongan naik truk, yang wanita campur dengan wanita, yang laki laki campur dengan laki laki. Rombongan wanita lebih dulu jalan, karena truk rombongan laki laki masih mempersiapkan segala macam barang bawaan yang harus di bawa ke atas. Trukpun mulai berjalan, dengan cekatan, pengemudi membawa truknya melewati pemukiman padat dengan kontur tanah yang segera menanjak tinggi. Bayangan perjalanan santai yang ada di benak segera berubah menjadi cemas, ketika truk masih melaju dengan kecepatan sedang melewati jalan yang tidak bisa di sebut lebar, dengan kanan kiri pemandangan hutan dan jurang jurang dangkal, ketika melihat ke arah atas bukit yang tinggi, calon pengantin laki laki bilang “Sudah dekat, itu di sana”, sambil menunjuk ke arah atas. Hah? Itu bukan dekat menurut saya, tapi jauh, plus jalur berkelok yang sempit dan dingin mulai menusuk tulang, dan lupa membawa jaket, lengkap sudah. 20 menit berlalu belum juga tampak perjalanan akan berakhir, sudah ada yang mulai mabuk darat, mungkin karena guncangan, pucat pasi, berpegangan pada sisi samping bak truk. Kasihan.

Ibu ibu bersiap naik truk

Hasil jepretan dengan hp pada medan yang bergoyang, pusing kan?
         Satu hal yang saya sesalkan adalah saya tidak membawa serta kamera butut saya untuk mengabadikan pemandangan indah di sisi kanan kiri jalan, sehingga hanya dengan modal telepon seluler dengan daya tangkap menyedihkan karena pencahayaan yang kurang, dan signal SOS merah karena tidak ada BTS saya mengabadikan setiap moment yang ada. Hutan Pinus ..... another beautiful scenery and i lost it. Wew!!! oke deh, tidak apa apa, semoga besok waktu perjalanan pulang saya bisa meng capture nya. Truk tiba di tempat tujuan di iringi nafas lega penumpang dan bunyi adzan Magrib pun berkumandang, Alhamdulillah, inilah Malarhayu, Bantaragung, Sindangwangi, Majalengka, yang katanya desa tertinggi di kaki bukit Gunung Ciremai. Tempat kami akan menghabiskan waktu satu hari ke depan. Setelah istirahat sejenak, kami pun segera bergantian menuju ke tempat air untuk selain membersihkan badan dan keperluan ke belakang juga mempersiapkan diri Sholat Magrib, dan brrrrrrr ..... cessssssss ..... ampuuuunnnnnn, airnya sedingin es. Bayangan mandi yang segar untuk memulihkan stamina pun segera sirna, cukup membersihkan badan yang tampak saja he he.  
        Acara seserahan berlangsung khidmat setelah Sholat Isya', di sambung dengan acara makan malam yang tak kalah nikmatnya, di tengah hawa gunung yang dingin, menikmati hangatnya teh tawar ( selama di sana kami tidak di suguhi teh manis ) dan semangkuk sup, serta menu utama nasi dan olahan daging, cukup untuk bekal ber hibernasi di temani suara jengkerik yang bersahut sahutan, serta suara berbagai hewan malam di kegelapan pepohonan hutan pinggir kampung. Alhamdlillah saya di pinjami jaket oleh sepupu saya yang kebetulan bertiga tapi membawa jaket 4, ah, kalau sudah rezeki takkan kemana.  
          Terbangun subuh, bersiap menghadapi dinginnya air gunung yang lebih dingin dari kemarin sore, mandi pagi yang ooouuuuuaaahhhhhh duingiiinnnnnnnn, jantung serasa berhenti berdetak ketika segayung air di siramkan ke tubuh, tapi lumayan mengusir dingin setelah selesai mandi. Sambil menunggu mentari muncul, ngobrol dengan penduduk lokal kerabat mempelai wanita, di suguhi air putih panas dan papaes ( makanan khas katanya ), terbuat dari tepung beras kalau tidak salah, di bungkus daun pisang dan di kukus, namun agak hambar menurut saya, sehingga perlu di temani emping melinjo juga, he he, sehingga terasa lebih nikmat. Ada juga tape ketan yang di bungkus daun jambu, di taruh di dalam toples, kemudian di siram kuah, namun karena saya kurang suka jadi tidak ikut mencicipi.
anakku in action, Latar belakang adalah hutan
ini dia si empunya blog, dg latar belakang sumber mata air yang melimpah, catat ...ini adalah di desa teratas Gunung Ciremai, katanya ...
          Setelah makan pagi, menunggu jam akad nikah yang di jadwalkan jam 10 pagi tiba, tuan rumah sudah beberapa hari menyewa hiburan CBR Entertainment, yaitu Qasidah dangdut Al-Mujahirin pimpinanan Kang Kusnadi dari Cimerang Payung Rajagaluh Majalengka, yang lumayan menghibur dengan 3 penyanyi top nya, cewek cewek dengan dandannan khas, uhuy. Di buka dengan lagu “secangkir kopi” yang di populerkan oleh siapa saya tidak tahu, kemudian “buaya buntung” by Inul Daratista, namun tidak memakai goyang ngebor he he. Di susul kemudian dengan beberapa buah lagu yang sering saya tidak tahu artinya karena memakai bahasa Sunda. Suara musiknya benar benar menggedor gedor jantung, hingga terasa mau copot. Jam 10.00 petugas KUA sudah siap di tempat, acara dangdut an di pending sementara, tempat ijab qobul, mempelai pria dan wanita disiapkan, dengan mahar seperangkat perhiasan dan uang sejumlah Rp 111,112,- yang di sesuaikan dengan tanggal, bulan dan tahun pada saat itu. Isak tangis terdengar dari mempelai wanita dan orang tua kedua mempelai, entah itu karena bahagia, sedih, senang atau apa saya tidak tahu, yang pasti semua rasa campur aduk seperti nano nano pastinya.
Di goyang mang!!! haseeekkkkkk
          Acara akad nikah lancar, sekarang tiba saatnya ............... saweran!!!!, saya baru lihat yang kayak gini pertama kali, ada seorang wanita yang menyanyi lagu sunda di depan pintu rumah, sementara kedua mempelai duduk di depan rumah, saya gak tahu artinya sama sekali, yang pasti mungkin doa doa untuk keselamatan dan kebahagiaan kedua mempelai, mungkin lho ya, di susul dengan beberapa kerabat memberi uang atau amplop di letakkan di wadah yang sudah di sediakan, kemudian dari dalam rumah, keluarga mempelai keluar sambil membawa wadah berisi beras dan uang receh, kemudian sementara acara saweran masih berlangsung, beras dan uang receh di sebar ke arah tamu di sambut dengan gegap gempita saling berebut, saya kebetulan tidak bertanya ada filosophi apa di balik acara tersebut, yang pasti kepala beradu tangan dan siku sudah jamak terjadi, termasuk saya yang mengambil gambar, siku saya mengenai seorang ibu ibu sepuh, aduhhhh maaf ibu ya, gak sengaja.  
          Acara selesai, persiapan pulang kembali ke Bantul sehabis sholat Dhuhur, setelah semua beres tinggal menunggu truk yang akan mengangkut kami turun, namun nasib berkata lain, angkutan yang tersedia cuman 1 buah truk dan 1 buah pick up yang jelas tidak cukup untuk kami semua, sehingga harus menunggu truk pertama balik lagi, dan nasib kurang beruntung masih terjadi lagi, ketika sudah berjam jam kami menunggu, akhirnya kami turun bersamaan dengan rombongan lain yang semua berbahasa sunda, ibu ibu, gandeeeeennngggg ( ramai dalam bahasa sunda ). Tapi tidak apa apalah yang penting lancar. Perjalanan turun yang mendebarkan kembali kami lewati, namun kali ini tidak tahu kenapa, kami melewati jalur yang berbeda dengan jalur waktu berangkat, mungkin yang bermukim di Majalengka tahu, kami melewati Waduk Sindangpanon, yang sepertinya sering di pakai dan memang tempatnya enak untuk sekedar duduk duduk menikmati pemandangan. Setelah berputar putar sampailah kami di bawah menjelang waktu sholat Ashar habis. Legaaa. Saatnya pulangggg.
         Bus keluar dari wilayah Majalengka sekitar 45 menit kemudian, masuk ke Kota Cirebon, sehabis waktu magrib tiba, kami sudah masuk tol. Lancar, kemudian berhenti di rest area sekitar pintu masuk tol Ciperna, wuzzzzz, begitu keluar dari bus, hawa panas dan kering serta angin kencang langsung terasa. Tapi semua terobati dengan adanya masjid dan toilet yang bersih dan nyaman. Selesai kami langsung meneruskan perjalanan pulang, setelah sebelumnya bagi bagi dinner box, bekal dari Majalengka. Pagi sekitar jam 02.00 bus tiba kembali di Bantul dengan selamat. Alhamdulillah.